Sistem Penjaminan Mutu - Webometrics ranking universities

May 20 2014

Webometrics dan budaya organisasi menuju world class university

Published by at 8:41 am under Webometrics

Kekuatan perguruan tinggi dan kualitas perguruan tinggi menjadi bagian dari alat persaingan saat ini. Kekuatan di satu titik mungkin tidak dibarengi total quality management (TQM) namun pola-pola yang parsial, akan tetapi karena indikator kekuatan itu menjadi Global Rank, maka akan menjadikan mudah terlihat prestasi tersebut di mata masyarakat. Sehingga dari sisi promosi dan kekuatan brand akan memiliki persepsi di atas rata-rata yang lain di mata masyarakat terutama yang awam.

Kualitas parsial perguruan tinggi pun, belum tentu menjadi kekuatan sebenernya, karena bisa saja kualias itu bersifat overhaul, tidak terlihat (invisible). Namun jika diimbangi dengan budaya organisasasi yang baik, integrasi dalam pencapaian misi visi perguuan tinggi maka akan memiliki impact yang baik, setidakny ada nya contiunuos improvement.  Budaya organisasi sendiri dalam perguruan tinggi juga dipengaruhi kekuatan "siapa" pemilik perguruan tinggi tersebut, apakah dari kekuatan lembaga keagamaan, lembaga bisnis, lembaga sosial, dari instansi pemerintah.

Saya memiliki pengalaman menarik dimana bisa melihat beberapa perguruan tinggi yang menjadikan tim kami sebagai pendamping implementasi manajemen mutu. Mulai dari perguruan tingggi muhammadiyah, perguruan tinggi islam negeri, dan perguruan tinggi bentukan dari yayasan di TNI AU. Ketiganya memiliki budaya organisasi yang masih memiliki karakteristik bawaan.

Ibarat air yang mengalir dari dataran yang tinggi ke rendah, meski melewati tanah, tetesan embun pepohonan, penguapan menuju air hujan, namun perbedaaan prosesi itu akan berakhir serempak meski berbeda-beda fasenya, akan serempak menuju muara di dataran rendahnya, ini pun akan sama halnya dengan perguruan tinggi, perbedaan karakter bawaan yang melekat dalam budaya organisasi, akan tetap bisa dijadikan satu arah, dengan world class univesity, bahkan perguruan tinggi yang berbeda bahasa dan negara pun akan bisa disatukan arahnya.

Webometrics sebagai bahasa pemersatu untuk berbudaya digital yang baik, memiliki kekuatan untuk mendorong perguruan tinggi di dunia, mulai menyusun secara konkret pembangunan budaya dari sisi kepatuhan, kedisiplinan SDM dalam mengelola aset digital perguruan tingginya.  Ketika masing-masing perguruan tinggi bingung apa yang diprioritaskan, dana berapa yang harus disiapkan maka webometrics dan 4icu telah memberikan sinyal "inilah prioritas"  dalam membangun continuos improvement.

Bahasa pemersatu dalam indikator webometrics akan memiliki dorongan kuat, terhadap perbaikan perangkat pendukung dalam berbudaya organisasui yang baik, dr sisi perangkat mutunya :

- prosedur sistem  (SOP)
- prosedur kerja
- wewenanga dan tanggungjawab
- instuksi kerja
- kualifikasi SDM
- standar kompetensi SDM

Sehingga akan ada keseimbangan budaya organisasi ketika menuju kedisiplinan dengan indikator offline dengan online. Misal memunculkan prosedur tentang kewajiban publikasi maksimal 2 hr setelah sebuah seminar dilaksanakan di fakultas, harus terpublish di media web fakultas. Atau yang dahulu pengelolaan web di unit tidak begitu jelas siapa yang bertanggungjawab, maka serempak dibuat Wewenang dan Tanggungjawab, untuk menekankan JOB DISKRIPSI, terutama untuk konsistensi pengelolaan web dan pengayaan konten secara kreatif.

yah kalau jawabnnya itu tidak mudah, pasti, karena pada dasarnya upaya menjadikan lebih baik harus dibarengi kesiapan mindset SDMnya.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply