Sistem Penjaminan Mutu - Webometrics ranking universities

Jan 30 2014

5 Salah paham tentang Webometrics

Published by at 9:22 am under Webometrics

Kaget juga seorang profesor di sebuah universitas negeri, berkomentar di media online tentang webometrics, namun sayangnya komentarnya kurang relevan, sepertinya belum memahami webometrics secara menyeluruh dan mendalam, hanya sekedar 'itu adalah sistem perangkingan dunia'

Sudah berkali-kali saya mengisi workshop2 tentang webometrics di berbagai perguruan tinggi, dan memang ada  yang saya dapati tentang pemahaman yang tidak merata dengan metode Webometrics ini, sehingga menjadikan pincang pemahamannya, dalam memahami sistem ranking webometrics.

Nah untuk mengantisipasi kesalahan besar dalam memahami perangkingan webometrics ini saya berikan 5 salah paham tentang webometrics, agar masyarakat bisa memahami filosofi webometrics dengan tepat

  1. Katanya sistem ranking webometrics bukan gambaran kualitas perguruan tinggi yg sebenarnya. Jawab : Loh, itu penilaian yg sebenarnya, namun bukan semua aspek perguruan tinggi dipertaruhkan di sana, seperti layaknya sistem penilaian lain yang parsial, , misal kompetisi GREEN CAMPUS, kompetisi kampus terbersih, seperti komperisi sepak bola, lomba karya tulius, kompetisi olimpiade, kontes robot dll bahwa yg kalah menang di sana bukan berarti total kualitas perguruan tinggi secara menyeluruh jg dipertaruhkan dg cara itu.
  2. Katanya sistem ranking webometrics bisa rekayasa. Jawab : Soal rekayasa pada semua lini penilaian di dunia ini bisa dijalankan, bahkan utk Akreditasi BAN PT saja juga bisa terjadi, persoalannya jika ada rekayasa, itu kesalahan besar partisipan, bukan pada penyelenggaraan kompetisi atau assesmentnya, tinggal pertajam sistem akurasi penilainnya.
  3. Katanya sistem ranking webometrics tidak ada manfaat. Jawab : Semua bentuk popularitas perguruan tinggi kelas dunia, yang hadir dari sistem soft selling seperti penilaian webometics ini, sangat berguna karena komparasi antar perguruan tinggi, menjadi horisontal antara perguruan tinggi di malaysia, indonesia, kanada, korea, memang selama ini perguruan tinggi merasa bahwa popularitas hanya dari pergerakan hardselling, seperti iklan, promosi, komisi ke pengampu ke SMA, dll
  4. Katanya sistem ranking webometrics soal adu kekuatan IT. Jawab : bukan IT semata, namun metode penilaianya lebih menggunakan IT BASED, namun obyek penilaian justru tidak dari IT semata, karena misal jurnal, skripsi, partisipasi dosen, karya tulis, kerjasama luar, yg berbau akademis dll menjadi point penting juga.
  5. Katanya sistem ranking webometrics tidak berdampak untuk internal Perguruan tinggi, Jawab : jika semua elemen webometrics dioptimalkan, dan diposisikan webometrics sebagai cerminan prestasi media online dan benchmarking, maksudnya webometrics bukan tujuan utama, maka yang terjadi nanti adalah tertibnya administrasi online, baik dari tenaga kependidikan/pendidik/mahasiswa/alumni dan media2 pendukunganya. Karena akan ada kedisipilinan dalam kualitas dan publikasi dari potensi perguruan tinggi. Sayangnya memang kadang ini mengusik zona nyaman para pemangku jabatan dan tenaga pendidik di perguruan tinggi, sehinga memacu resistensi.

So, darikaca marketing ranking webometrics dapat meningkatan visibiliti yang positif ke nasional dan dunia, tinggal apakah kita memang open mind? Selama bisa mengerti bedanya softselling dan hardselling.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply