Sistem Penjaminan Mutu - Webometrics ranking universities

Jul 24 2013

Kesalahan menafsirkan Ranking 4icu & webometrics

Published by at 2:13 pm under Webometrics

Kisah fiktif : Di sebuah arena pekan olah raga mahasiswa,  ramai sekali, para supporter  semangat berteriak, didorong oleh fanatisme kampusnya, didorong oleh perjuangan dan ingin hasil terbaik.  Kemudian dari peringkatnya, ternyata peserta lomba dari PTN XXXX nomor 1 mengalahkan peserta dari ITB, UGM, UI ada di peringkat bawahnya. Kemudian esoknya di media masa ada tulisan "PTN XXXX  adalah terbaik se Indonesia"

Ada juga kemaren lomba catur antara mahasiswa, peserta lomba dari PTN YYYY memenangkanya dan peringkat I, di atas ITB, UGM dan UI, kemudian pagi harinya di media masa tertulis "PTN YYYY terbaik se Indonesia berdasar Catur  xxxxx"

Gonjang-ganjing akhirnya, karena menang di lomba catur, lalu di-identik-kan bahwa total kualitas perguruan tinggi menang segala-galanya hanya dari lomba catur saja. Seakan-akan kalau  juara 1 lomba catur, maka total kualitas perguruan tingginya lebih baik. Itu semua di atas hanya perumpamaan, jika mirip itu kebetulan. Itulah kesalahan memahami  kompetisi, termasuk salah tafsir memahami hasil peringkat webometrics dan 4icu (unirank)

Tentang webometrics & 4icu rank, sebenernya cukup simple, kalau kita sudah memahami dengan benar, apa paramater2 penilaian dalam kompetisi2 di dunia perguruan tinggi, maka kita akan  faham manfaatnya terutama untuk menjadikan refleksi. Setiap pemeringkatan atau kompetisi antar perguruang tinggi, memiliki value, fokus pada bidang tertentu, misal  olah raga, agama, psikologi, soft skill dan peningkatan aspek-aspek yang sifatnya parsial. Hasil dari semua ini bukan penilaian yang integratif, namun parsial, bergantung fokus penilaiannya. Dan metodenya dikemas oleh masing-masing organisasi yg membidanginya, misal ada FIFA untuk sepak bola, atau ada standarisasi ITTF untuk tenis meja dan webometrics untuk web perguruang tinggi.

Jika kita terjebak pada perdebatan "siapa yang menyelenggarakan", maka itu akan mengakibatkan ketertiggalan, ketika pesaing lebih dahulu menyesuaikan atas perubahan skala internasional. Apapun itu berita tentang pemeringkatan tentang webometrics, 4iCU, Qs STarr akan tetap menjadi berita dengan nilai jual tinggi untuk segmen pembaca tertentu.

Lalu apakah 4icu dan webometrics itu tidak penting?

Jawabnya sangat penting, karena webometrics dan 4iCu adalah pola benchmarking terbaik dengan pendekatan kuantitatif dan komparatif sedunia dari pemanfaatan media online, terutama untuk Webometrics

Aspek marketingnya sangat kuat di segmen tertentu, bahkan kalau dilihat diskusi anak2 SMA di Yahoo answer, di milis, mereka membandingkan 2-3 perguruan tinggu yang akan dipilih, orientasinya ke webometrics.

Peringkat di Indonesia termasukj BAN PT, adalah pola dari penilaian kualitatif yang bersifat closed. Namun untuk webometrics adalah penilaian kuantitatif yang bersifat opened, karena setiap hari bisa dilihat angka prestasi secara online, oleh semua orang, berapa pencapaian perguruan tinggi UI, UGM, ITB, UII dll

Tinggal penentuan formula dari masing-masing pengelenggara perankingan web dunia ini, misal ada webometrics ada 4icu (unirank)

Menurut Dirjen DIKTI (2009, Red), Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D “menekuni Webometrics jauh lebih realistis bagi perguruan tinggi Indonesia, terutama yang bukan comprehensive university, ketimbang bersaing dirating THES-QS yang sangat kompetitif dan fluktuatif”.

Sehingga saya menulis di blog ini, juga bertujuan memberikan tafsir sekilas, bahwa pemeringkatan webometrics dan 4icu adalah lebih kepada penilaian kualitas media online perguruan tinggi, bukan menjadikan lambang 'lebih baik' dan 'lebih buruk' bagi total kualitas perguruan tinggi yang ada saat ini, jadi hanya dari sisi pemanfaatan media online, baik dalam hal keterbukaan hasil karya ilmiah, skripsi di web perguruan tinggi, atau tingkat popularitas di medi online.

Menyikapi webometrics dengan lembah manah lan nrimo

Banyak yang protes terhadap penilaian webometrics dan 4icu, bukan karena  faktor validitas penyelenggara pemeringkatan sebagai acuan, tetapi lebih kepada sisi SDM perguruan tinggi tersebut yang 'tersenggol' zona nyamannya, karena adanya upata optimalisasi media online perguruan tinggi.

JIka dengan hati legowo, maka webometrics sebenarnya menekankan kepada hal-hal positif, dalam bahasa saya seruan itu adlaah  :

  1. Wahai perguruan tinggi, janganlah pelit ilmu, jadikanlah karya ilmiah, skripsi, journal dan pemikiran insan akademik untuk  bahan peningkatan kualitas masyarakat, sehingga jangan hannya disimpan di rak-rak buku, di flashdisk tapi juga dipublish di website, apalagi karya2 yang didanai hibah yang diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk kepentingan mereka, termasuk bidan industri, kesehatan,  UKM, ekonomi, kedokteran dll
  2. Wahai perguruan tinggi, jadikanlah media online perguruan tinggi menjadi kekayaan masyarakat umum dengan ilmu, kajian, analisa dan pemikirannya, sehingga perguruan tinggi benar mampu membangun bangsa yang baik tidak hanya dari mahasiswanya tapi  juga dari pengaruh2 nya ke masyarakat lewat  media berkualitas. 
Namun dari 2 hal tersebut, pengaruh pemeringkatan webometrics dan 4icu, kadang disalahkartikan, sebagai tujuan utama, padahal selayaknya cermin, hanya memperlihatkan kondisi apa yang ada. Beberapa masalah dalam optimalisasi adalah :
  1. Tidak mudah mengubah SDM di perguruan tinggi untuk tertib administrasi, rela upload mandiri SKRIPSI menjelang wisuda, upload tesis/disertasi bagi lulusan S2/S3.
  2. Tidak mudah mengubah budaya pengajar rela 'diatur' untuk memanfaatkan media online dengan disiplin demi komunikasi kepada mahasiswa.
  3. Tidak mudah mengubah budaya cepat upload materi (free) sehabis ada seminar ada workkshop, tidak mudah menjadikan orang menulikan berita secara real time, karena biasanya kesandung budaya menunda 'nanti sajalah' dll
  4. Tidak mudah mengubah SDM rela menulis di blog, forum dll lebih senang memanfaatkan facebook an yng rileks dll. Banyak SDM yang mungkin mengatakan tidak ada waktu untuk bantu peningkatan kualitas media online perguruan tinggi, tapi rela berjam-jam facebook di kantor, termasuk main game di Facebook.
Yah wajar jika ada "sedikit banyak" munculnya resistensi terhadap pemeringkatan webometrics dan 4icu, bahkan melawan secara habis-habisan walau belum tahu benar apa 'parameter'  webometrics dan 4icu sebenarnya. Jika diamati, penolakan itu lebih didorong 'jangan sampai ada kerjaan tambahan baru dan aturan baru'.
Lalu bagaimana penerapan lembah manah lan nrimo terhadap webometrics?
Jadikanlah pemeringkatan ini sebagai benchmarking, untuk melihat sejauh mana perkembangan optimalisasi media online dari perguruan tinggi lain, bagaimana manajemennya, bagaimana pemberdayaannya, bagaimana kepeduliannya, bagaimana menjadikan stakeholder optimal berpartisipasi di media online termasuk cara penggunaan yang efektif. Anggap itu bukan 'penilaian' tapi melihat sebagai 'peluang perbaikan'.
Sungguh, sebenarnya ini akan memberikan dampak SDM perguruan tinggi akan lebih tertib administratif media onlinenyam termasuk dokumen-dokumen onlinanya...  Namun seperti kata-kata klise, butuh kesadaran dan kemauan belajar kembali, meski yang guru besar sekalipun.
Semoga webometrics dapat menjadikan cermin bagi berbagai perguruan tinggi Indonesia, untuk melihat 'aku sampai mana' dan perguruan tinggi lain sampai mana.

++ Sebuah catatan umum atas pengamatan sekilas beberapa perguruan tinggi di Indonesia, hasil diskusi ringan dengan insan pendidikan di berbagai perguruan tinggi ++

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply