Sistem Penjaminan Mutu - Webometrics ranking universities

Feb 06 2009

Resistensi dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu diperguruan tinggi

Published by at 3:35 am under Sistem Penjaminan Mutu

Perguruan tinggi dalam implementasi sistem penjaminan mutu secara umum memunculakan resistensi, baik secara mayoritas maupun mioritas. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kesadaran dan kebutuhan untuk menajdi baik secara sistemik, rata-rata perbaikan insitusi lebih kepada harapan dan cara pandang personal, sehingga muatan integrasi  sistem penjaminan mutu tidak begitu sempurna.

Dari hasil diskusi ketika menjadi pemateri pelatihan sistem penjaminan mutu BPM UII, paparan peserta dari berbagai perguruan tinggi tersebut  dapat ditulis bahwa secara umum resistensi dalam implementasi  sistem penjaminan mutu bisa muncul secara tiba tiba karena

1. PErgantian Pejabat atau restrukturisasi
KEtika Unit Penjaminan Mutu telah berhasil membangun kesadaran pentingnya implementasi sistem panjaminan mutu pada suatu waktu kepada seluruh lapisan di perguruan tinggi, maka belum tentu itu akan berlangsung secara terus menerus, sebuah contoh  ketika  pergantian pejabat Dekanat dan Prodi secara menyeluruh di universitas maka perlu ditanyakan kembali apakah pejabat baru tersebut akan tetap mampu dan mau menjalankan sistem penjaminan mutu seperti pejabat sebelumnya. Atau bisa saja ketika awal pejabat menjabat bisa menjalankan sistem penjaminan mutu dengan baik namun setelah 1-2 tahun dan setelah mennghasilkan hasil audit, maka antipasti terhadap sistem penjaminan mutu akan muncul karena dari hasil audit ssecara langsung bisa membandingkan hasil pencapaian periode kepemimpinan secara kuaktitatif. Yang  sebelumnya mungkin kepemimpinan dan dampaknya baru sesuatu yang dirasakan.

2. PErgantian SIstem yang drastis
Sistem Penjaminan mutu mempunyai tujuan baik namun belum tentu diterima dengan baik. Apalagi ketika dalam periode tertentu sistem telah dipahamai dengan baik dan dirasakan secara tiba-tiba sistem berganti, terlebih pergantian tersebut lahir bukan dari perbaikan sistem namun karena pergantian salah satu pejabat Unit Penjaminan Mutu yang mempunyai pemikiran berbeda, atau barusan saja lulus S3 di luar negeri, sehingga belum membumi kembali terhadap sistem yang ada malahan membuat perubahan sistem yang baru, yang berbeda dan menuntuy staf belajar lagi.
3. KEtika Sistem Penjaminan Mutu selalu dikaitkan dengan Tambahan Penghasilan
PErbaikan sistem diharapkan ada perbaikan dalam sistem penggajian, setidaknya tambahan penghasilan, mungkin ini pemkiran-banyak lapisan SDM di tingkat menengah ke bawah yang tidak sadar bahwa tanggungjawab perbaikan kineerja juga tanggungjawab individu tanpa perubahan da dalam kenaikan tunjangan. Sehingga ketika secara umum dugaan tersebut melesat maka muncl keengganan.
4.    KEtika Sistem Penjaminan Mutu selalu dikaitkan dengan tambahan beban
Tidak sedikit yang merasa Implementasi akan menambah beban pekerjaan karena mekanisime yang sebelumnay tradisional tiba2 sistemis. KOnsep sistem penjaminan mutu yang real time memonitor inilah yang mungkin belum bisa diterima, karena juga akan memunculkan pengawasan langsung. Adanya prosedur-prosedur, formulir2 , target-target  yang  dicapai dalam periode tertentu, audit yang periodik. Semua ini sebenernya hanya karena belum terbiasa. Layaknya memakan durian, kalo yang belum pernah tentu berpikir mau makan saja harus kena duri, buka susah, penuuh resiko, dan harus rela kena bau-bauan.

5. Masih adanya kesenjangan senioritas yang dominan
Singkat saja, ketika unit penjaminan mutu ingin menerapkan sistem penjaminan mutu yang akan merubah cara dan berperilaku baik dosen dan staf maka sang senior tentu tidak semua bisa merima perubahan-perubahan yang dirancang oleh yang leboh muda, apalagi perangcangnya adalah mantan mahasiswanya dulu, misal Prof Dr. X yang tidak serta menerima sistem yang dirancang Drs. Y , karena Drs. Y kan mantan mahasiswanya dulu. Atau muncul karena secara politis, pejabat  menduduki jabatan karena bantuan pejabata yang lebih tinggi, sehingga bentuk rasa sungkan bisa saj mengganggu kenyamanan implementasi sistem penjaminan mutu yang digaungkan dari sang pejabat bawahan tadi, tanpa restu sang pejabat atasan pemberi  bantuan tadi.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply